Wednesday, September 29, 2010

Pencetus asma: Tungau debu rumah (TDR)/ House Dust Mites

KOMPONEN DEBU:
Debu rumah mengandung berbagai bahan seperti serat kain, sel-sel kulit mati (manusia), spora (bunga, jamur,bakteri), serat kapuk, jamur, sisa makanan, rambut, bulu hewan, tungau, dan sebagainya. Sumber debu yang mengandung TDR terbanyak adalah debu kamar tidur terutama debu di kasur kapuk, serta selimut/ kain berbahan wool.

Salah satu komponen debu, yaitu tungau ternyata merupakan agensia allergen utama penyebab asma.
Tungau jenis ini Tidak dapat terlihat dengan mata telanjang, karena ukuran tungau debu hanya 1/100 sampai 1/64 inci. Namun apabila anda memiliki alergi tungau debu, maka anda akan tahu bahwa ada tungau debu disekitar anda. Tergantung pada jenis spesiesnya, tungau hidup selama sekitar 30 - 100 hari, ber telur dan mengeluarkan sekitar 10-20 partikel sampah per hari nya.

TAKSONOMI:
TDR (tungau debu rumah) termasuk ke dalam filum Artropoda, kelas Arachnida, ordo Acari, subordo Astigmata, dan famili Pyroglyphidae terdiri dari 16 genus dan 46 spesies. Tiga belas spesies dapat ditemukan pada debu rumah, tiga diantaranya adalah sumber alergen TDR yaitu Dermatophagoides pteronyssinus, D.farinae,dan Glycypahgus destructor. Beberapa tungau yang dikelompokkan sebagai domestic mite yaitu jenis tungau yang hidup di lingkungan manusia adalah TDR (famili Pyroglyphidae), tungau gudang (famili Acaredai, Glyiphagidae dan Chortoglyphidae) dan tungau predator (famili Cheyletidae).

Gambar: tungau debu rumah, scanning electron micrograph, di atas kain
gambar gambar lain dapat diperoleh di http://dustmitespedia.com/articles/dust-mites-pictures-house-dust-mites-pictures-bed-bug-pictures/

Penyebab Alergi debu pada manusia dipicu oleh protein yang ditemukan dalam tungau yang dibuang dari bagian tubuhnya, sekresi dan feses. Mengetahui dan Mengurangi penyebab alergi jauh lebih efektif dalam mengurangi gejala yang timbul.

Gejala umum yang timbul pada alergi tungau debu termasuk diantaranya:

• Bersin
• Pilek
• Iritasi Mata
• Iritasi kulit
• Gejala asma


Karena tungau debu berkembang biak sepanjang tahun di dalam rumah, maka gejala alergi tungau debu yang terjadi biasanya tidak musiman.

Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Dunia (EPA), paparan tungau debu dapat memicu penyakit asma pada anak-anak yang sebelumnya tidak menunjukkan gejala asma.

HOW CAN I CONTROL DUST MITES??
1. tutup matrass/ kasur, bantal dengan rapat. sebisamungkin hindari pemakaian kasur/bantal/guling berbahan kapuk, sebaiknya gunakan spons/ poliester.Tungau debu paling suka tinggal di kasur, bantal, dan guling yang berisi kapuk, Bila terpaksa memakai kasur kapuk maka lakukan sedot debu secara teratur.
2. apabila menggunakan karpet, minimal dibersihkan seminggu sekali (atau paling tidak di vacuum cleaning.
3. gorden dicuci secara periodik. Cuci gordyn setiap 3 bulan sekali. Cuci dengan air panas agar tungau debu mati.
4. hindari pemakaian selimut berbahan wool. cuci selimut secara periodik, lebih baik lagi apabila dicuci menggunakan air panas/ menggunakan detergen anti bakteri
5.Minimalkan koleksi boneka dan mainan anak-anak yang terbuat dari kain berbulu. Jika boneka sedang tidak dimainkan simpan dalam tempat tertutup.
6.Hindari tumpukan buku pada tempat terbuka.
7. Atur suhu dan kelembaban ruang. Usahakan agar kamar tidur terang dan kering. Buka jendela dan lubang ventilasi agar udara dan sinar matahari dapat masuk. Manfaatkan AC untuk mengatur kelembaban hingga mencapai 35%. Tungau debu hidup subur di tempat yang gelap, hangat dan lembab. suhu optimal untuk pertumbuhan tungau debu adalah 255 – 30 derajat celcius pada kelembaban 70 – 80 persen.
8. Bersihkan kamar tidur secara teratur. Gunakan lap basah atau vacuum cleaner, jangan menggunakan kemoceng karena ini membuat debu bertebaran dan debu hanya berpindah tempat.
9. Ganti sprei dan sarung bantal guling minimal seminggu sekali.
Servis AC setiap 6 bulan sekali untuk menghindari bertumpuknya debu di filter.


beberapa penelitian terkait tungau debu rumah:




Richard Sporik and Thomas A. E. Platts-Mills. Epidemiology of dust-mite-related disease. Experimental and Applied Acarology Volume 16, Numbers 1-2, 141-151, dapat di download melalui
Chew,G L. 2009. Mite sensitization among Latina women in New York, where dust mite allergen levels are typically low. dapat diakses di

1 comment: